23
Sep
10

Subahanallah …

Subahanallah, Alhamdulillah, wa lailahailallah, Allahu akbar …

Lakhaulawalakuwatailabillah …

Astaghfirullah …

30
Oct
09

Memilih Ban dan Istri

Kemaren aku kedatangan tamu, relasi yang sudah aku anggap seperti saudara sendiri. Tidak hanya 1 orang tapi 3 orang sekaligus. Wes, pokoke rame pol. Sebagai tukang ban, tamuku juga mempunyai profesi yang nggak jauh beda, yaitu tukang ngopeni ban. Suasana mengalir dengan santai, ngobrol ngalor-ngidul sambil merokok klintingan malah ndak ngomongin masalah ban. Lha harus gimana lagi, sebagai orang yang udah hapal ban luar dalam tepatnya sok keminter masalah ban, kesepakatan tentang ban baik dalam diskusi, debat, negosiasi atao apapun istilahnya cukup dicapai dengan menempelkan ujung telunjuk masing-masing. Kami langsung nyetrum dan dong … hehehe.

Ndak gitu ding, kebetulan ini adalah kunjungan rutin biasa jadi ndak banyak hal yang harus dibahas. Makanya kami lebih banyak membahas masalah lain, mulai dari perang di palestina sampe soal syech puji, dari manohara sampe cici paramida … intinya ngobrol tentang hidup.
Dari obrolan itu ada satu konsep yang kami sepakati bersama bahwa inti hidup itu harus bisa memberikan arti, minimal buat orang disekitar kita. Tidak harus lebih karena kita memang tidak bisa memuaskan semua orang, yang penting cukup. Cukup sandang, cukup pangan, cukup mobil, cukup deposito dsb hehehe.

Kemudian beliau “si tamu” ini menyampaikan bahwa, “Prinsip tukang ban sejatinya bisa diterapkan dalam kehidupan ini. Misal dalam mencari jodoh atao pasangan hidup, sama seperti tukang ban pas nyari ban yang cocok untuk kendaraannya. Ndak mungkin tho yo kita yang cuman punya sepeda montor kemudian mengharapkan bisa menggunakan ban mobil. Maksudnya ya kalo duit kita cuman cukup sebagai tukang ban ndak usah mengharapkan istri manohara misalnya. Kalopun bisa kita paksakan pasti memerlukan banyak sekali modifikasi, ujung-ujungnya biaya operasional atao maintenance jadi tinggi. Istilahnya besar pasak daripada tiang”.

Welah, segitunya, tapi ta pikir-pikir bener juga ucapan beliaunya ini, maklum sebagai orang yang lebih tua tentu beliau memiliki pengalaman hidup yang banyak. Bahkan mungkin lebih banyak makan asem-garam daripada gula kehidupan. Aku cukup manggut-manggut sambil terus mencerna yang beliau sampaikan sambil ngisep rokok dalem-dalem.
“Terus …”, lanjut beliau, “kalo kita mau beli ban kan tentu tipenya kita sesuaikan dengan kondisi medan, mau yang TRACTION atao yang RIB. Mau medan licin atao berbatu. Nah calon pendamping kitapun dari awal harus sudah disiapkan bahwa nanti kita akan menjalani hidup seperti apa. Lah kita ini kan hidup di hutan seperti wong alas, tiap hari bergelut dengan debu, bau karet lagi. Wah jan mesakne tenan. Kalo istri kita ndak siap apalagi kalo kita bergaya retro seperti orang kota padahal katro dan ndeso, kan nanti bisa blaik tho yo.”

Aku makin kenceng aja manggut-manggut mendengarkan ocehan beliau. “Kalo kita salah milih ban, tidak sesuai medan bisa meleset sana meleset sini. Rossi aja pernah kalah dalam satu turnamen gara-gara bannya ndak pas, dia tidak memperhitungkan medan licin karena hujan, akibatnya sering terpeleset, maunya belok kiri eh kok bannya lari ke kanan demikian sebaliknya. Akhirnya yo kalah.”

Ini ucapan dari seorang ahli ban, kalo komentator pertandingan balapan montor biasanya menganalisa dari segi mesin, team, mental dan lain-lain. Tapi beliau menganalisa dari sudut pandang ban plus mengkorelasikannya dengan aktualisasi kehidupan sehari-hari. Bener-bener hebat.
Tapi tiba-tiba terlintas satu pertanyaan dalam pikiranku, “pak de ..”, kataku menginterupsi omongannya.
“Kalo kita beli ban kita kan bisa milih-milih. Ditoko sini ndak ada kita bisa nyari di toko lain. Tapi pasangan hidup, rasanya kok berat untuk milih-milih. Boro-boro memilih, lah wong sebagai orang alas yang bau karet gini kalo ada makhluk manusia berjenis kelamin cewek mau mendekat aja sudah syukur Alhamdulillah, bagaimana saya mau memilih, nanti malah kualat sama yang diatas karena dibilang tidak bisa bersyukur. Akhirnya yang terjadi apapun ketemunya ya kita pas-pasin tho yo. Lah terus gimana pakde, kalo ternyata medannya ndak pas.”, tanyaku antusias.
Beliau tersenyum sambil menghisap rokoknya dalam-dalam, sepertinya sudah tau bahwa pertanyaan seperti itu pasti akan terucapkan. “Kalo begitu keadaannya yo setidaknya kan kita sudah tau bakalan sering meleset ke kanan, meleset ke kiri. Tinggal mentalnya aja kita siapin agar meleset tersebut tidak sampai jatuh. Jadi ya … Selamat berpeleset-pelesetan. Hahaha …”, katanya sambil ketawa keras mirip mbah surip, sementara aku dengan terpaksa harus puas dengan jawabannya.

06
Nov
08

Run Flat Tire

Hari ini ketika aku sedang meeting membahas masalah ban di kantorku, istriku contact ke hapeku. Dia bilang sekarang ada di bengkel tambal ban, sepeda montor kesayangan bocor bannya, dan celakanya itu terjadi di tengah jalan ketika dia masih mengantarkan si kakak untuk berangkat sekolah. Repotnya lagi, istriku bilang karena dia kesusahan mendorong sepeda montor, maka terpaksa sepeda montor kesayangan tetep dia naiki dengan kedua anakku meski dalam keadaan gembos. Waaalaaahhh … ancur deh

Setelah aku menanyakan kondisi dia sekarang ini, kemudian aku menanyakan kondisi sepeda montorku, terutama velg dan bannya. Istriku bilang velg dan ban luar tidak masalah tetapi ban dalam perlu diganti. Yo mesti aja tho yo, lah wong ban gembos kok dinaikin, bertiga lagi, kataku dalam hati.

“Ban luar sepeda montor kita udah mengalami Run Flat tuh De …”, kataku kemudian. Aku memang memanggil istriku dengan panggilan sayang Dede. Welah, kok jadi sok romantis, hehehe, nanti deh akan ada ceritanya sendiri.

“Run Flat ? … opo iku, lagian emang kenapa, kata tukang tambalnya cuman ban dalemnya aja perlu diganti”, jawab istriku. Lah ini, belum apa-apa sifat ngeyel-nya muncul. Aku sering curiga jangan-jangan dulu waktu sekolah nilai pelajaran ngeyel istriku selalu seratus. Mosok aku harus menjelaskan masalah teknis ban kepada istriku, pake hape lagi. Meski aku sudah pake operator yang promosinya mengklaim dirinya sebagai operator dengan tarip termurah yo tetep rugi aku.

“Wis tho, kamu percaya aja sama suamimu yang sudah jago masalah ban ini … “, jawabku sedikit menyombongkan diri.

“Ban sepeda montor kita udah kena gejala yang istilah dalam perbanan disebut Run Flat. Yaitu kondisi dimana ban tetap dijalankan dalam kondisi gembos. Meskipun secara visual masih kelihatan bagus tetapi ada potensi bagian ply di dalam ban sudah mengalami kerusakan yaitu rantas atau bahkan putus, sehingga jika dipompa bisa meletus”, terangku tanpa berharap istriku akan memahami apa yang aku sampaikan.

“Memang sih sekarang sudah ada teknologi Run Flat Tire, dimana ban yang sudah gembos masih bisa dijalankan beberapa km lagi untuk mencapai bengkel tambal ban terdekat. Tetapi harganya masih mahal sehingga cuman diaplikasikan pada kendaraan-kendaraan mewah saja. Dan aku tau pasti sepeda montor kita yang keluaran jaman jepang ini, masih belum menggunakan teknologi ban itu. Apalagi aplikasi untuk Run Flat Tyre memerlukan velg atau wheel khusus”.

“Sekarang juga sudah ada terobosan baru dimana design run flat tyre lebih kompatibel, sehingga dalam pemasangannya tidak lagi memerlukan wheel khusus artinya bisa dipasangkan pada velg standar. Namun demikian pemasangan Run Flat Tyre pada wheel standar memerlukan keahlian khusus karena sifat Run Flat tyre yang tidak lentur sehingga jika salah penanganan bisa mengakibatkan kerusakan pada wheel atau bahkan ban itu sendiri”.

“Jadi saranku, ban luarnya diganti aja sekalian, daripada kamu nanti bolak-balik ke tukang tambal ban”, lanjutku.

Aku ndak mendengar suara apapun disebrang sana, ndak tau apa yang dilakukan atau dipikirkan istriku, jangan-jangan dia ndak mendengarkan ocehanku, blaik tho yo, capek-capek aku ngomong kok ndak didengerin.

“Aku tetep ganti ban dalem aja pah …”, tiba-tiba istriku menyahut, “karena uang yang aku bawa sekarang hanya cukup untuk ganti ban dalam dan biaya bengkel saja. Dan lagi menurut tukang bannya ban luarnya ndak pa-pa kok, sayang kalo diganti, ngeman katanya”.

Welaah ini dia, argument apapun dariku pasti kalah kalo udah dicounter dengan budget. Terang aja aku ndak puas, ya iyalah masa ya iya dong, mosok ilmu perbanan yang aku pelajari bertahun-tahun sehingga menjadikan aku seperti sekarang ini, kalah argument melawan “fatwa budget” menteri keuangan keluarga dan fatwa tukang tambal ban kampung sebelah rumah …. jan ndak keren blas.

“Yo wis, ndak pa-pa, sing penting kamu selamet …”, jawabku kalah

10
Oct
08

Black Ban

“Pah … kenapa ban kok warnanya hitam ya?”, tiba-tiba si kakak, anakku yang besar yang sekarang berumur 6 tahun  menyeletuk bertanya. Ini terjadi di hari minggu pagi yang cerah, beberapa waktu yang lalu.

Hari minggu adalah selalu menjadi hari favoritku. Bagaimana ndak, lah wong setelah selama 72 jam yang terakumulasi dalam 6 hari aku bekerja membanting ban, akhirnya aku bisa mempunyai waktu untuk santai sekedar menikmati hidup. Bayangkan, pemerintah saja menetapkan jam kerja karyawan 40 jam dalam 1 minggu, tapi hal ini ndak berlaku ditempat kerjaku, dimana operasional harus terus berjalan, nonstop, makanya rata-rata aku menghabiskan waktu hampir 12 jam sehari di tempat kerja.

Maka dari itu wajar tho yo, jika di hari minggu aku menuntut off penuh, baik di pekerjaan maupun di rumah, artinya (seharusnya) sah saja seandainya di hari minggu aku sekedar duduk-duduk menikmati tipi atau nongkrong di teras melihat orang yang lalu-lalang di depan rumah sambil nyruput wedang kopi.

Namun, blaiknya kadang di hari minggu istriku juga menuntut off penuh. Minta libur mengurus dua prajurit kecilku yang bandelnya minta ampun. “Aku juga mau menikmati hidup tho, aku malah 24 jam nonstop kerjanya, ngurusin anakmu dan kamu yang sama bandelnya …”, demikian kilahnya, aku hanya bisa melongo …

Contohnya ya seperti pagi ini, baru saja aku duduk di teras selepas sarapan pagi, belum sempet menghirup kopi yang masih ngebul, yang baru disuguhkan istriku, lah kok sudah terdengar tangisan dari si kecil yang baru 2 tahun berebut mainan dengan kakaknya, padahal di lantai sudah berhamburan semua persediaan mainan yang ada.

Aku melirik ke istriku yang duduk disebelahku, kok cuek diem aja seolah tak mendengar, aku colek sebagai tanda untuk melerai mereka, eh istriku malah gantian balas colek, 2 kali malahan. Daripada terjadi ajang colek-mencolek tetapi tidak membuahkan hasil apapun, ya terpaksa aku mengalah …

Biasanya obat mujarab dan jadi andalan yang akan aku lakukan adalah mengeluarkan sepeda montor kesayangan. Sepeda montor keluaran tahun 98 ini adalah barang mewah pertama yang aku beli dengan keringatku sendiri hasil “ngemong” ban. Dan biasanya dua prajuritku itu akan berebut ikut begitu melihat aku mendorong keluar sepeda montorku, karena berarti hanya ada dua kemungkinan. Kalau tidak jalan-jalan santai keliling kota yang tidak seberapa luas di pedalaman kalimantan ini, ya paling aku mau cuci montor yang berarti mereka bisa ikut mainan air.

Berhubung aku belum sempet mandi tadi, daripada ndak pede keluar rumah masih dalam keadaan semrawut dan belekan, bawa 2 anak lagi, ya mending aku cuci montor aja yang sebenernya ndak seberapa kotor. Langsung saja aku dan kedua anakku berhamburan dengan kesibukan main air masing-masing.

Kulihat yang kecil sibuk memasukkan air lewat lubang knalpot, aku biarkan saja, lah wong lebih banyak tumpah daripada masuknya. Kakaknya sibuk mengelap ban yang menurut dia tidak pernah bersih. Aku … cukup mengelap ala kadarnya sambil menikmati sebatang rokok, dan sekali-kali nyruput kopiku yang sudah agak dingin. Sedang istriku … tetap duduk di teras sambil tersenyum memandangi kami dengan pandangan penuh kemenangan. Aku tertawa keras ketika dia mengomel gara-gara aku semprot sedikit dengan air. Hmmm, Alhamdulillah … hidup is so beautiful …

Kembali ke pertanyaan diatas …

“Pah … kenapa ban kok warnanya hitam ya?”, tiba-tiba si kakak, anakku yang besar yang sekarang berumur 6 tahun menyeletuk bertanya. Walah … aku langsung melongo dan menghentikan aktifitasku. Aku kaget karena berpuluh-puluh kali kami melakukan acara cuci montor bersama, kenapa tiba-tiba sekarang dia menanyakan pertanyaan itu. Seandainya aku seorang bankir mungkin aku bisa jawab dari analisa ekonomi, atau jika aku seorang dokter mungkin aku jawab dari segi kesehatan, atau sejelek-jeleknya jika aku seorang politikus akan aku bohongi anakku dengan jawaban diplomasi, misalnya “agar bannya tidak cepet kotor???”.

Tetapi aku seorang tukang ban, sehingga aku harus memberi jawaban dari sudut pandang teknis. Nah ini yang aku bingung ndak donk, lah wong aku sendiri suka ndak sadar e kalo ban itu cuman punya satu warna yaitu hitam.

“Dulu, waktu papa masih kecil, papa inget ban sepeda enyang kakung itu warnanya putih kak …”, aku mulai mencoba menjabarkan jawabanku.

“Itu karena memang bahan utama ban adalah dari karet alami. Kakak tau kan getah karet warnanya putih?”, lanjutku lagaknya seorang profesor sedang menerangkan ke mahasiswanya.

“Tetapi ternyata bahan karet alami atau natural rubber ini memiliki beberapa kekurangan seperti tidak awet karena mudah terluka kena goresan dan susah dicari sehingga mahal. Oleh karena itu orang mulai berpikir bagaimana agar compound ban ini semakin ekonomis yaitu murah dan tahan lama. Maka dicampurlah compound ban dengan bahan sintetik. Salah satu bahan sintetik yang ditambahkan kedalam adonan karet ban adalah karbon. Nah, karbon itu warnanya hitam seperti arang atau batu-bara. Itulah kenapa ban itu hitam seperti arang”.

“Jadi ban itu seperti arang ya pah?”, kembali si kakak bertanya. “Yaa … kira-kira begitulah”, jawabku kebingungan, aku lihat ada ketidakpuasan di wajah annakku. “Kalau menurut kakak sendiri gimana …?”, aku balik bertanya.

“Kalau menurut kakak, kenapa ban itu warnanya hitam karena biar nggak cepet kotor, kan jalanan warnanya juga hitam”, balas anakku dengan cuek sambil terus sibuk mengelap ban sepeda montorku. Aku cuman bisa meringis sambil garuk-garuk kepala yang ndak gatal. Sementara di teras sana gantian istriku tertawa terkekeh-kekeh mendengar pembicaraan kami. Hmm … hidup memang so beautiful …

23
Jul
08

Definisi Ban

 

Apa sih ban itu ?

 

Pertanyaan itu selalu mengganjal di pikiranku. Sampai sekarang sebagai tukang ban aku merasa tertantang untuk bisa menjawab pertanyaan itu. Malu dong, katanya Thole udah jadi tukang ban selama sekian taun, mosok pertanyaan yang sangat mendasar seperti itu ndak bisa menjawabnya. Taunya cuman bulet, warna item dan ndak enak kalo dimakan. Kata orang-orang gengsi dong …

 

Sekarang kan jamannya orang harus bisa mendefinisikan sesuatu, karena seseorang dianggep ahli dan kompeten tentang suatu hal jika dia bisa mendefinisikan hal tersebut. Aku sendiri selalu merasa takjub dan ternganga dengan orang-orang yang suka muncul di tipi itu, yang katanya nara sumber ahli, mereka pasti jago kalo disuruh untuk mengartikan tentang suatu hal dalam pokok bahasannya.

 

Kita sendiri juga dari mulai sekolah TK, SD, SMP, SMA dan seterusnya, dari wajib belajar 6 taun jamanku dulu sampai sekarang menjadi 9 taon tetep aja masih di doktrin dengan definisi tersebut.

Coba pikirkan aja, sekarang anak kita dianggep pinter jika nilai raport sekolahnya bagus kan, nilai raport bagus itu jika anak kita pas ujian sekolah bisa mengerjakannya kan, nah sekarang coba tengok pertanyaan-pertanyaan yang muncul di ujian sekolah anak-anak kita, kebanyakan pertanyaan yang muncul selalu diawali dengan :

  1. Apa kepanjangan dari ….
  2. Kapan si A lahir …
  3. Kapan si B wafat …
  4. dsb …

Nah kalo anak kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu baru anak kita dibilang pinter.

 

Sekarang bagaimana kasusnya dengan anakku yang baru umur 4 taun yang sekarang masih sekolah di TK kelas nol kecil. Waktu penerimaan raport kemarin pelajaran menggambar anakku merah, ketika dikonsultasikan sama guru ternyata anakku pernah suatu kali disuruh menggambar bunga tapi ketika dikumpulkan gurunya mendapati kertas gambar anakku cuman di ureg-ureg (diblok) pake crayon warna hitam, jelas gurunya ndak terima, marah, merasa dilecehkan, lah wong disuruh gambar bunga kok cuman di ureg-ureg, makanya nilai menggambar anakku jadi merah.

Ketika aku tanya ke anakku, “Kenapa adek cuman ureg-ureg item aja, kan kata bu guru disuruh menggambar bunga.”. Coba anda bayangkan apa jawaban anakku, “Kan malam hari pah, jadi hitam, gelap, bunganya nggak keliatan.”. Aku jadi berpikir, anakku yang baru berumur 4 taun itu sakjane pinter apa keminter. Meski aku ngotot bahwa itu jawaban cerdas dari anak berumur 4 taun, tetep aja realitanya nilai menggambar anakku merah. Dan aku juga yakin akan asumsi anda semua jika melihat nilai merah di raport pasti dibilang anak ini tidak pinter, iya toh ….

 

Lah terus bagaimana juga dengan istriku, selama sekian taun aku hidup bersama dia, Alhamdulillah di karunia anak yang lucu dan “cerdas” (dalam tanda kutip). Aku sangat mengetahui hal-hal apa yang dia suka atau yang tidak, dia juga memahamiku, pokoke aku ndak bisa hidup tanpa dia. Tapi kalo aku ditanya definisi istri, sampai sekarang aku juga mumet menjawabnya. Kalo gitu aku bisa di bilang tidak kompeten dan ahli dengan istriku, yo blaik tho yo …

 

Kembali ke masalah awal jadi ban itu apa sih ???

Dari wikipedia didapat bahwa yang dimaksud dengan tire adalah sebagai berikut :
Tires, or tyres (in American and British English, respectively), are ring-shaped parts, either pneumatic or solid (including rubber, metals and plastic composites), that fit around wheels to protect them and enhance their effect.
“Jadi yang dimaksud dengan tire atau ban adalah bagian dari roda yang berbentuk bulat, baik yang solid maupun berisi angin yang terbuat dari karet, besi maupun plastik dan dipasang mengelilingi roda.”, kataku dengan sedikit bangga.

Tapi setiap orang yang aku beri jawaban itu jika mereka bertanya kok pada diem aja tidak antusias, bahkan ada yang nyeletuk, “Walah si Thole cuman bisa menterjemahkan saja, kalo gitu semua orang juga bisa.”

 

Aku jadi berpikir, iya-ya aku kok cuman bisa membeo tok, jangan-jangan aku memang tidak pinter, jangan-jangan “bisa mendefinisikan” memang parameter wajib agar orang bisa dibilang pinter atau kompeten. Jangan-jangan untuk kasus ureg-ureg anakku memang karena dia tidak bisa menggambar bunga bukannya pinter atau keminter.

Atau yang lebih gawat lagi jangan-jangan aku memang tidak kompeten, tidak ahli dan tidak pinter mengenai istriku ….

21
Jul
08

Kilas Balik

Sekarang aku sedang duduk di depan komputer di meja kantorku. Sebuah kopi hitam manis baru saja disuguhkan oleh sekretarisku. Hmm … hidup memang bagaikan roda berputar.

Aku teringat kembali sekitar 10 tahun yang lalu, saat pertama kali masuk ke ruangan direktur perusahaanku untuk melakukan interview. Masih fresh graduate, idealis dan agak sedikit arogan, sifat alamiah darah muda. Aku masih ingat bagaimana ekspresiku saat itu ketika beliau berkata, “You nanti jadi tireman …”. Aku langsung terperangah, sangat tidak kuduga sebelumnya. Aku tidak dapat membayangkan, sekian tahun kerkutat dengan buku berbagai bidang ilmu di sekolah, bersusah payah melalui seleksi pendaftaraan di sebuah perusahaan, ketika langkah sudah menuju akhir pintu gerbang aku “hanya” akan menjadi seorang tukang ban.

Tetapi itu dulu, sekarang setelah sekian tahun menekuni bidangku, makin pudar sifat aroganku. Makin lama aku kok makin merasa “tidak pinter”. Makin dalam aku menggali ilmu tentang ban, makin banyak literatur dan googling masalah ban yang aku temukan, aku kok makin merasa “tidak mudeng”. Tapi bagiku ini adalah suatu tantangan, jadi aku harus terus berupaya memperdalam ilmu dan wawasanku tidak hanya masalah ban tapi juga ilmu-ilmu yang lain.

Masih inget omongan simbok saat itu, “Thole, apapun pekerjaanmu, kamu harus menjalaninya dengan ikhlas dan sabar, dan yang penting adalah halal. Simbok ndak mau kalau kamu pulang kampung terus ngasih sangu ke bapak, simbok dan adik-adikmu dengan uang haram.”

“Nggih mesti halal tho mbok, wong saya kerja di perusahaan kok bukan nyolong …”.

“Iyo … bapak dan simbok percaya”, kali ini bapakku yang menimpali, “cuman kamu itu sebenernya kerja dimana dan kerjaanmu ngopo …?”

Walah, ini pertanyaan yang sering aku denger ketika aku pulang kampung, pertanyaan yang sering ditanyakan oleh orang-orang yang ketemu denganku,  pertanyaan yang menurutku sulit untuk dijawab, mosok aku jauh-jauh merantau, pulangnya pake montor mabur kok disana cuman jadi tukang ban, yo ndak gathuk.

“Di perusahaan pertambangan batu-bara pak, mbok, paklik, bude”, biasanya itu jawabanku kepada mereka, “bagiannya tireman …”, lanjutku tanpa berusaha mendetailkan pekerjaanku. Alasannya hanya satu, malu sebagai tukang ban.

“Weehh kok susah sekali, gajinya pasti tinggi ya thole, soale pekerjaanmu kok susah sekali nyebutnya”. Aku hanya bisa tersenyum miris.

Tetapi sekali lagi itu dulu, sekarang lain lagi ceritanya. Perkembangan dunia open mining di indonesia tumbuh pesat, hal ini mungkin sejalan dengan terus meningkatnya harga minyak, sehingga orang mulai mencari alternatif sumber bahan bakar.

Ban sebagai salah satu bagian utama dalam masalah transportasi di open mining menjadi barang langka. Sekarang susah mencari ban di pasaran, kalaupun ada harganya sudah diluar akal manusia. Efeknya yang jelas buat aku adalah, tukang ban seperti aku ini banyak dicari orang, guna mengoptimalkan penggunaan ban agar bisa lebih irit, awet dan efisien.

Sehingga jangan heran kalau sekarang jika aku pulang kampung, dengan bangga akan aku teriakkan, “Isyhadu (saksikanlah) … bahwa aku seorang tukang ban”.




 

January 2012
S M T W T F S
« Sep    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Tukang Komentar

Arif Budianto on Keluarga
Konco lawas on Kilas Balik
Konco lawas on Keluarga
Konco lawas on Keluarga
Konco lawas on Run Flat Tire

Blog ini dibuka

  • 1,019 kali

Profile

Si Thole :


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.