Archive for July, 2008

23
Jul
08

Definisi Ban

 

Apa sih ban itu ?

 

Pertanyaan itu selalu mengganjal di pikiranku. Sampai sekarang sebagai tukang ban aku merasa tertantang untuk bisa menjawab pertanyaan itu. Malu dong, katanya Thole udah jadi tukang ban selama sekian taun, mosok pertanyaan yang sangat mendasar seperti itu ndak bisa menjawabnya. Taunya cuman bulet, warna item dan ndak enak kalo dimakan. Kata orang-orang gengsi dong …

 

Sekarang kan jamannya orang harus bisa mendefinisikan sesuatu, karena seseorang dianggep ahli dan kompeten tentang suatu hal jika dia bisa mendefinisikan hal tersebut. Aku sendiri selalu merasa takjub dan ternganga dengan orang-orang yang suka muncul di tipi itu, yang katanya nara sumber ahli, mereka pasti jago kalo disuruh untuk mengartikan tentang suatu hal dalam pokok bahasannya.

 

Kita sendiri juga dari mulai sekolah TK, SD, SMP, SMA dan seterusnya, dari wajib belajar 6 taun jamanku dulu sampai sekarang menjadi 9 taon tetep aja masih di doktrin dengan definisi tersebut.

Coba pikirkan aja, sekarang anak kita dianggep pinter jika nilai raport sekolahnya bagus kan, nilai raport bagus itu jika anak kita pas ujian sekolah bisa mengerjakannya kan, nah sekarang coba tengok pertanyaan-pertanyaan yang muncul di ujian sekolah anak-anak kita, kebanyakan pertanyaan yang muncul selalu diawali dengan :

  1. Apa kepanjangan dari ….
  2. Kapan si A lahir …
  3. Kapan si B wafat …
  4. dsb …

Nah kalo anak kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu baru anak kita dibilang pinter.

 

Sekarang bagaimana kasusnya dengan anakku yang baru umur 4 taun yang sekarang masih sekolah di TK kelas nol kecil. Waktu penerimaan raport kemarin pelajaran menggambar anakku merah, ketika dikonsultasikan sama guru ternyata anakku pernah suatu kali disuruh menggambar bunga tapi ketika dikumpulkan gurunya mendapati kertas gambar anakku cuman di ureg-ureg (diblok) pake crayon warna hitam, jelas gurunya ndak terima, marah, merasa dilecehkan, lah wong disuruh gambar bunga kok cuman di ureg-ureg, makanya nilai menggambar anakku jadi merah.

Ketika aku tanya ke anakku, “Kenapa adek cuman ureg-ureg item aja, kan kata bu guru disuruh menggambar bunga.”. Coba anda bayangkan apa jawaban anakku, “Kan malam hari pah, jadi hitam, gelap, bunganya nggak keliatan.”. Aku jadi berpikir, anakku yang baru berumur 4 taun itu sakjane pinter apa keminter. Meski aku ngotot bahwa itu jawaban cerdas dari anak berumur 4 taun, tetep aja realitanya nilai menggambar anakku merah. Dan aku juga yakin akan asumsi anda semua jika melihat nilai merah di raport pasti dibilang anak ini tidak pinter, iya toh ….

 

Lah terus bagaimana juga dengan istriku, selama sekian taun aku hidup bersama dia, Alhamdulillah di karunia anak yang lucu dan “cerdas” (dalam tanda kutip). Aku sangat mengetahui hal-hal apa yang dia suka atau yang tidak, dia juga memahamiku, pokoke aku ndak bisa hidup tanpa dia. Tapi kalo aku ditanya definisi istri, sampai sekarang aku juga mumet menjawabnya. Kalo gitu aku bisa di bilang tidak kompeten dan ahli dengan istriku, yo blaik tho yo …

 

Kembali ke masalah awal jadi ban itu apa sih ???

Dari wikipedia didapat bahwa yang dimaksud dengan tire adalah sebagai berikut :
Tires, or tyres (in American and British English, respectively), are ring-shaped parts, either pneumatic or solid (including rubber, metals and plastic composites), that fit around wheels to protect them and enhance their effect.
“Jadi yang dimaksud dengan tire atau ban adalah bagian dari roda yang berbentuk bulat, baik yang solid maupun berisi angin yang terbuat dari karet, besi maupun plastik dan dipasang mengelilingi roda.”, kataku dengan sedikit bangga.

Tapi setiap orang yang aku beri jawaban itu jika mereka bertanya kok pada diem aja tidak antusias, bahkan ada yang nyeletuk, “Walah si Thole cuman bisa menterjemahkan saja, kalo gitu semua orang juga bisa.”

 

Aku jadi berpikir, iya-ya aku kok cuman bisa membeo tok, jangan-jangan aku memang tidak pinter, jangan-jangan “bisa mendefinisikan” memang parameter wajib agar orang bisa dibilang pinter atau kompeten. Jangan-jangan untuk kasus ureg-ureg anakku memang karena dia tidak bisa menggambar bunga bukannya pinter atau keminter.

Atau yang lebih gawat lagi jangan-jangan aku memang tidak kompeten, tidak ahli dan tidak pinter mengenai istriku ….

21
Jul
08

Kilas Balik

Sekarang aku sedang duduk di depan komputer di meja kantorku. Sebuah kopi hitam manis baru saja disuguhkan oleh sekretarisku. Hmm … hidup memang bagaikan roda berputar.

Aku teringat kembali sekitar 10 tahun yang lalu, saat pertama kali masuk ke ruangan direktur perusahaanku untuk melakukan interview. Masih fresh graduate, idealis dan agak sedikit arogan, sifat alamiah darah muda. Aku masih ingat bagaimana ekspresiku saat itu ketika beliau berkata, “You nanti jadi tireman …”. Aku langsung terperangah, sangat tidak kuduga sebelumnya. Aku tidak dapat membayangkan, sekian tahun kerkutat dengan buku berbagai bidang ilmu di sekolah, bersusah payah melalui seleksi pendaftaraan di sebuah perusahaan, ketika langkah sudah menuju akhir pintu gerbang aku “hanya” akan menjadi seorang tukang ban.

Tetapi itu dulu, sekarang setelah sekian tahun menekuni bidangku, makin pudar sifat aroganku. Makin lama aku kok makin merasa “tidak pinter”. Makin dalam aku menggali ilmu tentang ban, makin banyak literatur dan googling masalah ban yang aku temukan, aku kok makin merasa “tidak mudeng”. Tapi bagiku ini adalah suatu tantangan, jadi aku harus terus berupaya memperdalam ilmu dan wawasanku tidak hanya masalah ban tapi juga ilmu-ilmu yang lain.

Masih inget omongan simbok saat itu, “Thole, apapun pekerjaanmu, kamu harus menjalaninya dengan ikhlas dan sabar, dan yang penting adalah halal. Simbok ndak mau kalau kamu pulang kampung terus ngasih sangu ke bapak, simbok dan adik-adikmu dengan uang haram.”

“Nggih mesti halal tho mbok, wong saya kerja di perusahaan kok bukan nyolong …”.

“Iyo … bapak dan simbok percaya”, kali ini bapakku yang menimpali, “cuman kamu itu sebenernya kerja dimana dan kerjaanmu ngopo …?”

Walah, ini pertanyaan yang sering aku denger ketika aku pulang kampung, pertanyaan yang sering ditanyakan oleh orang-orang yang ketemu denganku,  pertanyaan yang menurutku sulit untuk dijawab, mosok aku jauh-jauh merantau, pulangnya pake montor mabur kok disana cuman jadi tukang ban, yo ndak gathuk.

“Di perusahaan pertambangan batu-bara pak, mbok, paklik, bude”, biasanya itu jawabanku kepada mereka, “bagiannya tireman …”, lanjutku tanpa berusaha mendetailkan pekerjaanku. Alasannya hanya satu, malu sebagai tukang ban.

“Weehh kok susah sekali, gajinya pasti tinggi ya thole, soale pekerjaanmu kok susah sekali nyebutnya”. Aku hanya bisa tersenyum miris.

Tetapi sekali lagi itu dulu, sekarang lain lagi ceritanya. Perkembangan dunia open mining di indonesia tumbuh pesat, hal ini mungkin sejalan dengan terus meningkatnya harga minyak, sehingga orang mulai mencari alternatif sumber bahan bakar.

Ban sebagai salah satu bagian utama dalam masalah transportasi di open mining menjadi barang langka. Sekarang susah mencari ban di pasaran, kalaupun ada harganya sudah diluar akal manusia. Efeknya yang jelas buat aku adalah, tukang ban seperti aku ini banyak dicari orang, guna mengoptimalkan penggunaan ban agar bisa lebih irit, awet dan efisien.

Sehingga jangan heran kalau sekarang jika aku pulang kampung, dengan bangga akan aku teriakkan, “Isyhadu (saksikanlah) … bahwa aku seorang tukang ban”.




 

July 2008
S M T W T F S
    Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tukang Komentar

Arif Budianto on Keluarga
Konco lawas on Kilas Balik
Konco lawas on Keluarga
Konco lawas on Keluarga
Konco lawas on Run Flat Tire

Blog ini dibuka

  • 1,125 kali

Profile

Si Thole :


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.