Sekarang aku sedang duduk di depan komputer di meja kantorku. Sebuah kopi hitam manis baru saja disuguhkan oleh sekretarisku. Hmm … hidup memang bagaikan roda berputar.
Aku teringat kembali sekitar 10 tahun yang lalu, saat pertama kali masuk ke ruangan direktur perusahaanku untuk melakukan interview. Masih fresh graduate, idealis dan agak sedikit arogan, sifat alamiah darah muda. Aku masih ingat bagaimana ekspresiku saat itu ketika beliau berkata, “You nanti jadi tireman …”. Aku langsung terperangah, sangat tidak kuduga sebelumnya. Aku tidak dapat membayangkan, sekian tahun kerkutat dengan buku berbagai bidang ilmu di sekolah, bersusah payah melalui seleksi pendaftaraan di sebuah perusahaan, ketika langkah sudah menuju akhir pintu gerbang aku “hanya” akan menjadi seorang tukang ban.
Tetapi itu dulu, sekarang setelah sekian tahun menekuni bidangku, makin pudar sifat aroganku. Makin lama aku kok makin merasa “tidak pinter”. Makin dalam aku menggali ilmu tentang ban, makin banyak literatur dan googling masalah ban yang aku temukan, aku kok makin merasa “tidak mudeng”. Tapi bagiku ini adalah suatu tantangan, jadi aku harus terus berupaya memperdalam ilmu dan wawasanku tidak hanya masalah ban tapi juga ilmu-ilmu yang lain.
Masih inget omongan simbok saat itu, “Thole, apapun pekerjaanmu, kamu harus menjalaninya dengan ikhlas dan sabar, dan yang penting adalah halal. Simbok ndak mau kalau kamu pulang kampung terus ngasih sangu ke bapak, simbok dan adik-adikmu dengan uang haram.”
“Nggih mesti halal tho mbok, wong saya kerja di perusahaan kok bukan nyolong …”.
“Iyo … bapak dan simbok percaya”, kali ini bapakku yang menimpali, “cuman kamu itu sebenernya kerja dimana dan kerjaanmu ngopo …?”
Walah, ini pertanyaan yang sering aku denger ketika aku pulang kampung, pertanyaan yang sering ditanyakan oleh orang-orang yang ketemu denganku, pertanyaan yang menurutku sulit untuk dijawab, mosok aku jauh-jauh merantau, pulangnya pake montor mabur kok disana cuman jadi tukang ban, yo ndak gathuk.
“Di perusahaan pertambangan batu-bara pak, mbok, paklik, bude”, biasanya itu jawabanku kepada mereka, “bagiannya tireman …”, lanjutku tanpa berusaha mendetailkan pekerjaanku. Alasannya hanya satu, malu sebagai tukang ban.
“Weehh kok susah sekali, gajinya pasti tinggi ya thole, soale pekerjaanmu kok susah sekali nyebutnya”. Aku hanya bisa tersenyum miris.
Tetapi sekali lagi itu dulu, sekarang lain lagi ceritanya. Perkembangan dunia open mining di indonesia tumbuh pesat, hal ini mungkin sejalan dengan terus meningkatnya harga minyak, sehingga orang mulai mencari alternatif sumber bahan bakar.
Ban sebagai salah satu bagian utama dalam masalah transportasi di open mining menjadi barang langka. Sekarang susah mencari ban di pasaran, kalaupun ada harganya sudah diluar akal manusia. Efeknya yang jelas buat aku adalah, tukang ban seperti aku ini banyak dicari orang, guna mengoptimalkan penggunaan ban agar bisa lebih irit, awet dan efisien.
Sehingga jangan heran kalau sekarang jika aku pulang kampung, dengan bangga akan aku teriakkan, “Isyhadu (saksikanlah) … bahwa aku seorang tukang ban”.
Tukang Komentar