“Pah … kenapa ban kok warnanya hitam ya?”, tiba-tiba si kakak, anakku yang besar yang sekarang berumur 6 tahun menyeletuk bertanya. Ini terjadi di hari minggu pagi yang cerah, beberapa waktu yang lalu.
Hari minggu adalah selalu menjadi hari favoritku. Bagaimana ndak, lah wong setelah selama 72 jam yang terakumulasi dalam 6 hari aku bekerja membanting ban, akhirnya aku bisa mempunyai waktu untuk santai sekedar menikmati hidup. Bayangkan, pemerintah saja menetapkan jam kerja karyawan 40 jam dalam 1 minggu, tapi hal ini ndak berlaku ditempat kerjaku, dimana operasional harus terus berjalan, nonstop, makanya rata-rata aku menghabiskan waktu hampir 12 jam sehari di tempat kerja.
Maka dari itu wajar tho yo, jika di hari minggu aku menuntut off penuh, baik di pekerjaan maupun di rumah, artinya (seharusnya) sah saja seandainya di hari minggu aku sekedar duduk-duduk menikmati tipi atau nongkrong di teras melihat orang yang lalu-lalang di depan rumah sambil nyruput wedang kopi.
Namun, blaiknya kadang di hari minggu istriku juga menuntut off penuh. Minta libur mengurus dua prajurit kecilku yang bandelnya minta ampun. “Aku juga mau menikmati hidup tho, aku malah 24 jam nonstop kerjanya, ngurusin anakmu dan kamu yang sama bandelnya …”, demikian kilahnya, aku hanya bisa melongo …
Contohnya ya seperti pagi ini, baru saja aku duduk di teras selepas sarapan pagi, belum sempet menghirup kopi yang masih ngebul, yang baru disuguhkan istriku, lah kok sudah terdengar tangisan dari si kecil yang baru 2 tahun berebut mainan dengan kakaknya, padahal di lantai sudah berhamburan semua persediaan mainan yang ada.
Aku melirik ke istriku yang duduk disebelahku, kok cuek diem aja seolah tak mendengar, aku colek sebagai tanda untuk melerai mereka, eh istriku malah gantian balas colek, 2 kali malahan. Daripada terjadi ajang colek-mencolek tetapi tidak membuahkan hasil apapun, ya terpaksa aku mengalah …
Biasanya obat mujarab dan jadi andalan yang akan aku lakukan adalah mengeluarkan sepeda montor kesayangan. Sepeda montor keluaran tahun 98 ini adalah barang mewah pertama yang aku beli dengan keringatku sendiri hasil “ngemong” ban. Dan biasanya dua prajuritku itu akan berebut ikut begitu melihat aku mendorong keluar sepeda montorku, karena berarti hanya ada dua kemungkinan. Kalau tidak jalan-jalan santai keliling kota yang tidak seberapa luas di pedalaman kalimantan ini, ya paling aku mau cuci montor yang berarti mereka bisa ikut mainan air.
Berhubung aku belum sempet mandi tadi, daripada ndak pede keluar rumah masih dalam keadaan semrawut dan belekan, bawa 2 anak lagi, ya mending aku cuci montor aja yang sebenernya ndak seberapa kotor. Langsung saja aku dan kedua anakku berhamburan dengan kesibukan main air masing-masing.
Kulihat yang kecil sibuk memasukkan air lewat lubang knalpot, aku biarkan saja, lah wong lebih banyak tumpah daripada masuknya. Kakaknya sibuk mengelap ban yang menurut dia tidak pernah bersih. Aku … cukup mengelap ala kadarnya sambil menikmati sebatang rokok, dan sekali-kali nyruput kopiku yang sudah agak dingin. Sedang istriku … tetap duduk di teras sambil tersenyum memandangi kami dengan pandangan penuh kemenangan. Aku tertawa keras ketika dia mengomel gara-gara aku semprot sedikit dengan air. Hmmm, Alhamdulillah … hidup is so beautiful …
Kembali ke pertanyaan diatas …
“Pah … kenapa ban kok warnanya hitam ya?”, tiba-tiba si kakak, anakku yang besar yang sekarang berumur 6 tahun menyeletuk bertanya. Walah … aku langsung melongo dan menghentikan aktifitasku. Aku kaget karena berpuluh-puluh kali kami melakukan acara cuci montor bersama, kenapa tiba-tiba sekarang dia menanyakan pertanyaan itu. Seandainya aku seorang bankir mungkin aku bisa jawab dari analisa ekonomi, atau jika aku seorang dokter mungkin aku jawab dari segi kesehatan, atau sejelek-jeleknya jika aku seorang politikus akan aku bohongi anakku dengan jawaban diplomasi, misalnya “agar bannya tidak cepet kotor???”.
Tetapi aku seorang tukang ban, sehingga aku harus memberi jawaban dari sudut pandang teknis. Nah ini yang aku bingung ndak donk, lah wong aku sendiri suka ndak sadar e kalo ban itu cuman punya satu warna yaitu hitam.
“Dulu, waktu papa masih kecil, papa inget ban sepeda enyang kakung itu warnanya putih kak …”, aku mulai mencoba menjabarkan jawabanku.
“Itu karena memang bahan utama ban adalah dari karet alami. Kakak tau kan getah karet warnanya putih?”, lanjutku lagaknya seorang profesor sedang menerangkan ke mahasiswanya.
“Tetapi ternyata bahan karet alami atau natural rubber ini memiliki beberapa kekurangan seperti tidak awet karena mudah terluka kena goresan dan susah dicari sehingga mahal. Oleh karena itu orang mulai berpikir bagaimana agar compound ban ini semakin ekonomis yaitu murah dan tahan lama. Maka dicampurlah compound ban dengan bahan sintetik. Salah satu bahan sintetik yang ditambahkan kedalam adonan karet ban adalah karbon. Nah, karbon itu warnanya hitam seperti arang atau batu-bara. Itulah kenapa ban itu hitam seperti arang”.
“Jadi ban itu seperti arang ya pah?”, kembali si kakak bertanya. “Yaa … kira-kira begitulah”, jawabku kebingungan, aku lihat ada ketidakpuasan di wajah annakku. “Kalau menurut kakak sendiri gimana …?”, aku balik bertanya.
“Kalau menurut kakak, kenapa ban itu warnanya hitam karena biar nggak cepet kotor, kan jalanan warnanya juga hitam”, balas anakku dengan cuek sambil terus sibuk mengelap ban sepeda montorku. Aku cuman bisa meringis sambil garuk-garuk kepala yang ndak gatal. Sementara di teras sana gantian istriku tertawa terkekeh-kekeh mendengar pembicaraan kami. Hmm … hidup memang so beautiful …
Tukang Komentar