Kemaren aku kedatangan tamu, relasi yang sudah aku anggap seperti saudara sendiri. Tidak hanya 1 orang tapi 3 orang sekaligus. Wes, pokoke rame pol. Sebagai tukang ban, tamuku juga mempunyai profesi yang nggak jauh beda, yaitu tukang ngopeni ban. Suasana mengalir dengan santai, ngobrol ngalor-ngidul sambil merokok klintingan malah ndak ngomongin masalah ban. Lha harus gimana lagi, sebagai orang yang udah hapal ban luar dalam tepatnya sok keminter masalah ban, kesepakatan tentang ban baik dalam diskusi, debat, negosiasi atao apapun istilahnya cukup dicapai dengan menempelkan ujung telunjuk masing-masing. Kami langsung nyetrum dan dong … hehehe.
Ndak gitu ding, kebetulan ini adalah kunjungan rutin biasa jadi ndak banyak hal yang harus dibahas. Makanya kami lebih banyak membahas masalah lain, mulai dari perang di palestina sampe soal syech puji, dari manohara sampe cici paramida … intinya ngobrol tentang hidup.
Dari obrolan itu ada satu konsep yang kami sepakati bersama bahwa inti hidup itu harus bisa memberikan arti, minimal buat orang disekitar kita. Tidak harus lebih karena kita memang tidak bisa memuaskan semua orang, yang penting cukup. Cukup sandang, cukup pangan, cukup mobil, cukup deposito dsb hehehe.
Kemudian beliau “si tamu” ini menyampaikan bahwa, “Prinsip tukang ban sejatinya bisa diterapkan dalam kehidupan ini. Misal dalam mencari jodoh atao pasangan hidup, sama seperti tukang ban pas nyari ban yang cocok untuk kendaraannya. Ndak mungkin tho yo kita yang cuman punya sepeda montor kemudian mengharapkan bisa menggunakan ban mobil. Maksudnya ya kalo duit kita cuman cukup sebagai tukang ban ndak usah mengharapkan istri manohara misalnya. Kalopun bisa kita paksakan pasti memerlukan banyak sekali modifikasi, ujung-ujungnya biaya operasional atao maintenance jadi tinggi. Istilahnya besar pasak daripada tiang”.
Welah, segitunya, tapi ta pikir-pikir bener juga ucapan beliaunya ini, maklum sebagai orang yang lebih tua tentu beliau memiliki pengalaman hidup yang banyak. Bahkan mungkin lebih banyak makan asem-garam daripada gula kehidupan. Aku cukup manggut-manggut sambil terus mencerna yang beliau sampaikan sambil ngisep rokok dalem-dalem.
“Terus …”, lanjut beliau, “kalo kita mau beli ban kan tentu tipenya kita sesuaikan dengan kondisi medan, mau yang TRACTION atao yang RIB. Mau medan licin atao berbatu. Nah calon pendamping kitapun dari awal harus sudah disiapkan bahwa nanti kita akan menjalani hidup seperti apa. Lah kita ini kan hidup di hutan seperti wong alas, tiap hari bergelut dengan debu, bau karet lagi. Wah jan mesakne tenan. Kalo istri kita ndak siap apalagi kalo kita bergaya retro seperti orang kota padahal katro dan ndeso, kan nanti bisa blaik tho yo.”
Aku makin kenceng aja manggut-manggut mendengarkan ocehan beliau. “Kalo kita salah milih ban, tidak sesuai medan bisa meleset sana meleset sini. Rossi aja pernah kalah dalam satu turnamen gara-gara bannya ndak pas, dia tidak memperhitungkan medan licin karena hujan, akibatnya sering terpeleset, maunya belok kiri eh kok bannya lari ke kanan demikian sebaliknya. Akhirnya yo kalah.”
Ini ucapan dari seorang ahli ban, kalo komentator pertandingan balapan montor biasanya menganalisa dari segi mesin, team, mental dan lain-lain. Tapi beliau menganalisa dari sudut pandang ban plus mengkorelasikannya dengan aktualisasi kehidupan sehari-hari. Bener-bener hebat.
Tapi tiba-tiba terlintas satu pertanyaan dalam pikiranku, “pak de ..”, kataku menginterupsi omongannya.
“Kalo kita beli ban kita kan bisa milih-milih. Ditoko sini ndak ada kita bisa nyari di toko lain. Tapi pasangan hidup, rasanya kok berat untuk milih-milih. Boro-boro memilih, lah wong sebagai orang alas yang bau karet gini kalo ada makhluk manusia berjenis kelamin cewek mau mendekat aja sudah syukur Alhamdulillah, bagaimana saya mau memilih, nanti malah kualat sama yang diatas karena dibilang tidak bisa bersyukur. Akhirnya yang terjadi apapun ketemunya ya kita pas-pasin tho yo. Lah terus gimana pakde, kalo ternyata medannya ndak pas.”, tanyaku antusias.
Beliau tersenyum sambil menghisap rokoknya dalam-dalam, sepertinya sudah tau bahwa pertanyaan seperti itu pasti akan terucapkan. “Kalo begitu keadaannya yo setidaknya kan kita sudah tau bakalan sering meleset ke kanan, meleset ke kiri. Tinggal mentalnya aja kita siapin agar meleset tersebut tidak sampai jatuh. Jadi ya … Selamat berpeleset-pelesetan. Hahaha …”, katanya sambil ketawa keras mirip mbah surip, sementara aku dengan terpaksa harus puas dengan jawabannya.





Tukang Komentar